Tanggung Jawab Arsitek di
Masyarakat
Perkenalkan
nama saya Eva Dewiyanti, salah satu
mahasiswi Program Studi Arsitektur Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Sebenarnya
banyak perjalanan yang harus saya lalui untuk dapat mencapai sampai pada titik
sekarang ini, yaitu sebagai mahasiswa
arsitektur di salah satu universitas di Jogja. Dengan keputusan bahwa saya
tidak diterima di Universitas lain, kemudian saya mendaftar ke fakultas teknik.
Yang kemudian saya diterima di universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta dengan beasiswa
ikatan persyarikatan. Saya ingin, mempelajari ilmu social, dan ternyata ilmu
social itu tidak hanya dipelajari di fakultas agama islam. Justru di fakultas
teknik, paling banyak terdapat ilmu social yang dipelajari.
Pada
dasarnya, manusia hanya dapat berikhtiar, namun Allah yang menentukan hasilnya.
Dalam arsitektur, kita diajarkan untuk bersosial, mempelajari perilaku manusia,
sehingga nantinya akan memberikan manfaat kepada manusia yang lain. MDMC
merupakan salah satu bidang pembangunan yang berada di dalam naungan
Muhammadiyah. Disitu dapat berkiprah, membantu masyarakat atau daerah yang
terkena bencana. Untuk saat ini, MDMC Yogyakarta sedang merencanakan untuk
membangun sekolah dasar tahan gempa.
Arsitektur hadir sebagai
hasil persepsi masyarakat yang memiliki berbagai kebutuhan. Untuk itu,
arsitektur adalah wujud kebudayaan yang
berlaku di masyarakatnya, sehingga perkembangan arsitektur tidak dapat
dipisahkan dari perkembangan kebudayaan masyarakat itu sendiri. Pada saat ini,
ketika perkembangan budaya dan peradaban sudah sedemikian maju, maka
perkembangan arsitektur – terutama di Indonesia – nampak berjalan mulus tanpa
ada saringan yang cenderung menghilangkan jatidiri. Arsitek sebagai salah satu
penentu arah perkembangan arsitektur di masyarakat dituntut untuk lebih aktif
berperan dalam menentukan arah dengan pemahaman terhadap nilai dan norma yang
hidup di masyarakat sebagai tolok ukurnya. Selain itu, diperlukan pula
kreativitas untuk menjabarkan rambu-rambu tradisional – sebagai suatu konsep
yang telah lama dimiliki masyarakat – ke dalam bentuk-bentuk yang akrab dengan
lingkungan dan mudah dicerna apa makna serta pesan yang akan disampaikan.
Jika Arsitek yang
bersangkutan tidak berhasil memenuhi persyaratan di atas, maka lambat atau
cepat lingkungan buatan berikut segala isinya akan berantakan, sebab sikap
Arsitek berbeda dengan pemakai maupun pengamat karya arsitektur dalam memandang
dan memikirkan tata lingkungan buatan sebagaimana dilakukan sebagian orang.
Dengan hadirnya arsitektur, masyarakat mempunyai persepsi dan kebutuhan yang
berbeda karena dipengaruhi berbagai cara oleh sifat lingkungan sebagai akibat
dari perilaku Arsitek dalam melakukan rancangannya. Perilaku masyarakat sangat
berbeda-beda pemahaman, ada yang acuh tak acuh terhadap karya seorang arsitek.
Maka bagaimana seorang arsitek sendiri mampu meyakinkan kepada masyarakat
sekitar bahwa pembangunan tersebut terdapat tata cara dan aturan didalamnya.
Karena arsitektur bertujuan
untuk masyarakat, maka hasil karya arsitektur seringkali dinilai kurang
kompromi dengan lingkungannya. Terciptanya karya arsitektur yang cocok dan
sesuai dengan lingkungan-nya tentu bukan monopoli dari si Arsiteknya saja. Penjabaran
dan perwujudan akan tata nilai ekonomis karya arsitektur akan melibatkan semua
pihak. Hal tersebut terjadi karena masyarakat sudah memiliki preferensi dalam
kognisinya tentang bentuk-bentuk yang ditampilkan sebagai bentuk-bentuk yang
secara historis pernah menjadi miliknya.
Banyak bangunan yang
sebetul-nya gagal secara fungsional atau tidak sesuai dengan perilaku
masyarakat atau pemakai, namun tetap diciptakan dengan ‘keterpaksaan’ karena
faktor-faktor lain yang sama sekali melupakan ‘jati diri’-nya. Latar belakang
dalam melakukan aktifitas sosial budaya, dalam masyarakat tradisional Jawa
misalnya, banyak belajar menyesuaikan diri dengan alam lingkungannya. Mereka
memilih untuk berusaha hidup ‘selaras’ dengan alam, walaupun tidak merasa bahwa
dirinya takluk kepada alam. Sebenarnya di dalam desain, tidak ada arsitek yang
mempersulit client nya, justru akan memberikan kenyamanan dan kepercayaan
kepada arsitek. Bentukan arsitekturnya merupakan karya yang secara arif
memanfaatkan potensi dan sumberdaya setempat serta menciptakan keselarasan yang
harmonis.
Ketika seorang Arsitek
terjun ke lapangan secara langsung, makan akan dapat mengetahui secara
langsung, situasi dan kondisi yang terjadi. Mulai dari, komunikasi dengan
pekerja, kemudia dapat membantu nya dalam memahami pekerjaan konstruksi. Di
sekitar kita banyak sekali yang dapat dikerjakan, mulai dari lingkungan
keluarga, kemudia lingkungan masyarakat sekitar. Sangat dominan ditemui, bahwa
adanya rakyat miskin, atau masyarakat yang tidak mampu secara finansial,
sehingga keadaan rumahnya ala kadarnya saja.
Kita sebagai seorang
arsitek, wajib mampu memberikan kelayakan tempat tinggal, sehingga dapat
merasakan seperti masyarakat lainnya pada umumnya. Di Indonesia merupakan
wilayah yang sering bencana, entah itu gempa, tsunami di beberapa daerah,
kemudian banjir. Nah, disitulah banyak peran arsitek yang dapat membantu
evakuasi di dalamnya. Tidak mengharapkan imbalan, namun rasa kemanusiaan harus
ada di dalam diri kita masing-masing.
Cara berfikir, bagaimana
jika bencana atau musibah tersebut menimpa pada diri kita sendiri, dan tidak
ada orang yang ikut membantu serta dalam pertolongan. Manusia memang di desain
Allah tidak dapat hidup sendiri, melainkan harus ada bantuan oleh manusia yang
lain. Saling tolong menolong, bahu membahu, dan mendukung satu sama lain dalam
hal kebaikan.
Sebuah desain lingkungan
misalnya, bagaimana cara menghasilkan lingkungan yang bersih, asri dan sehat.
Desain ini dapat diterapkan di lingkungan setempat, dengan adanya bekal mata
kuliah perilaku masyarakat dan arsitektur, kita dapat memahami beberapa
karakter orang ketika berada di lingkungan maupun di arsitektur. Terdapat peran
yang lain yaitu, menciptakan wadah atau ruang untuk kelangsungan hidup manusia,
sehingga manusia dapat hidup dengan layak dan aman.
Komentar
Posting Komentar